Artikel
Artikel » parenting »parenting
Facebook ditengah Keluarga
dipost pada: 11 March 2010
Masih lekat dalam ingatan kita berita tentang menghilangnya sejumlah remaja (ABG) putri akibat situs pertemanan facebook. Sebut saja seorang remaja putri 15 tahun dari Surabaya yang dinyatakan hilang, dan pada akhirnya ditemukan di Jakarta. Selain itu seorang mahasiswi dari Purwakarta yang menghilang selama 3 minggu yang menurut pengakuannya dibawa ke Batam dan kemudian ditelantarkan. Kedua kasus itu hampir sama, yaitu mereka menghilang setelah menerima ajakan teman yang dikenal lewat facebook.
Memang sekarang ini facebook seperti sudah menjadi wabah di segala kalangan. Bukan hanya di kalangan remaja atau pemuda, bahkan anak-anak dan para orang tua sekalipun. Semua asyik ber-facebook ria. Bahkan hingga lupa waktu. Mereka ber-facebook tidak hanya di waktu luang tetapi juga di waktu kerja ataupun waktu belajar. Tidak hanya di depan computer tetapi juga dengan handphone.
Melalui facebook setiap orang dimungkinkan untuk berkomunikasi dengan siapapun yang terdaftar menjadi anggotanya. Bukan sekedar berkenalan tetapi juga saling curhat dan pada akhirnya merasa dekat satu sama lain, walaupun belum pernah saling kenal. Tidak heran kalau pada akhirnya menciptakan ‘hubungan spesial’.
Jadi apakah ber-facebook itu salah ?
Kemajuan teknologi memang seperti pisau bermata dua, bisa memberikan dampak positif namun di sisi lain juga bisa memberikan dampak negatif. Sebagai situs jejaring sosial, facebook memang bisa menjawab kebutuhan untuk membangun hubungan sosial seluas-luasnya, tanpa dibatasi oleh jarak. Kebutuhan yang besar akan penerimaan sosial membuat seseorang akan dengan mudah meng-confirm setiap ada orang yang meng-add. Terlebih adanya pandangan bahwa semakin banyak teman di facebook menunjukkan eksistensi orang tersebut. Pemahaman yang salah ini akan membuat orang menjadi kurang hati-hati dan tidak mempertimbangkan orang yang baru dikenalnya itu.
Namun di sisi lain, melalui facebook remaja dapat mengembangkan ketrampilan sosialnya. Walaupun untuk itu perlu adanya arahan dari orang tua. Karena para remaja secara mental dan pola pikir belum matang. Mereka masih mudah dipengaruhi. Mereka belum dapat sepenuhnya menimbang apa yang baik dan tidak baik.
Haruskah facebook dilarang, terutama bagi remaja ?
Pelarangan facebook bagi anak, khususnya remaja, justru akan menjadi sumber konflik antara orang tua dengan anak. Anak akan melihat orang tua sebagai pihak yang tidak memahami perkembangan teknologi (gaptek atau gagap teknologi), yang membatasi pergaulan anak dan menjerumuskan anak menjadi kuper (kurang pergaulan). Hal ini juga akan membuat kesenjangan antara orang tua dengan anak menjadi semakin jauh; dan pada akhirnya membuat komunikasi menjadi tidak nyambung.
Bisa jadi semakin dilarang, semakin membuat anak penasaran. Apa yang dilarang justru itulah yang dilakukan.
Jadi apa yang harus dilakukan para orang tua ?
1. Menerima bahwa saat ini telah terjadi pergeseran pola interaksi.
Pola yang semula langsung melalui tatap muka atau telepon, sekarang sudah menjadi interaksi dunia maya, di mana tidak ada kendala jarak. Selain itu akses kepada setiap orang terbuka, sehingga memungkinkan untuk menerima informasi atau mendapat teman dari mana saja dan dengan latar belakang apapun.
2. Memberikan pemahaman tentang pemanfaatan facebook.
Menjelaskan manfaat positif dan dampak negatif yang mungkin ada. Penjelasan harus seimbang agar dapat menimbulkan respek dan anak dapat melihat bahwa orang tuanya mengerti dan memahami kemajuan teknologi yang ada. Berikan pula penjelasan bagaimana membangun hubungan sosial melalui facebook : bagaimana memilih teman, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sejauh mana hubungan atau komunikasi boleh dilakukan.
3. Jadilah kawan di facebook.
Bukalah akun di facebook dan sediakan waktu untuk sesekali meng-update status. Dengan cara demikian orang tua dapat juga mengenali kawan-kawan dan aktivitas anak.
4. Mengarahkan anak agar bijak menggunakan waktu.
Sulit bagi orang tua untuk melarang anak ber-facebook ataupun mengontrol sepenuhnya. Namun membiarkan anak ber-facebook tanpa tahu waktu akan membuat banyak hal harus menjadi korban. Arahkan anak dan bila perlu bantu anak supaya dapat mengatur waktu dan tetap memprioritaskan hal-hal yang penting. Setelah itu, berikan juga kepercayaan pada anak bahwa mereka akan menggunakan waktunya dengan bijak walaupun Anda tidak ada di sampingnya.
5. Selalu berkomunikasi, komunikasi dan komunikasi.
Pembukaan akun di facebook bukan untuk menggantikan komunikasi secara langsung dengan anak. Sering-seringlah untuk tetap berkomunikasi langsung dengan anak. Posisikan diri Anda bukan sebagai orang tua yang hanya memberikan nasihat dan mengatur, tetapi sebagai teman yang mau berbagi cerita dan mau mendengarkan. Komunikasi langsung merupakan cara yang paling efektif untuk membangun hubungan yang baik antara orang tua dengan anak. Dengan sering berkomunikasi dan tentu saja dengan cara komunikasi yang tepat, diharapkan anak bisa terbuka tentang banyak hal dan orang tua dapat lebih mudah untuk mengarahkan.
(Ani Wijaya)
Artikel Lainnya
- 10 Undang-Undang Mendidik Anak
- Anak Kegemukan Salah Orang Tua
- Obesitas Picu Sakit Kepala
- Membesarkan Si Upik dan Si Buyung, Sulit Mana?
- Awas Microwave, Nak!
- Duh, Bandelnya Anakku!
- Mengajarkan Anak Meminta Maaf
- Ayo Sekolah!
- Menghadapi Kebiasaan Makan si Kecil
- Membantu Anak Untuk 3S (siap membaca, siap menulis, siap matematika)
Page : 1 | 2 | | 3 | | 4 |
