Kata-Kata
Oleh: Atina Osmara



Alangkah bahagianya seorang ibu mendengar bayinya bisa mengucapkan kata-kata pertamanya, antara lain mama.  Sejak dilahirkan ke dunia seseorang belajar berkata-kata. Menyampaikan perasaannya, keinginannya, dan dimengerti orang lain di sekitarnya. Maka orangtua ...
GKI Surya Utama

Event Selanjutnya

 

GKI Surya Utama

 

Pendeta

Thursday, 09 September 2010

Artikel

Artikel » kesehatan »

kesehatan






Mengapa Serangan Jantung Datang Berulang?

dipost pada: 28 June 2010

Tak jarang serangan jantung datang berulang. Mestinya ini tak perlu terjadi bila pasien menyadari bahwa bahaya serangan berulang bisa datang lagi bila tidak diwaspadai. Kewaspadaan apa yang perlu disikapi agar peristiwa yang mengancam nyawa itu tak perlu ada?

 

 

Pak Ag, 68 tahun, jantungnya sudah di-bypass lima tahun lalu. Saat itu kondisi fisiknya sudah seperti anak muda kembali. Selain bugar, mampu berjalan cepat tanpa keluhan sesak napas seperti ketika sebelum jantungnya dioperasi.

 

 

Namun, sudah beberapa bulan belakangan ini Pak Ag mengeluh gampang sesak napas. Teman jalan kaki pagi melihat kemunduran Pak Ag selama berjalan cepat. Kalau sebelumnya ia begitu perkasa melangkah menempuh jarak yang sama dengan lebih laju, sekarang tak kuat lagi. Apa yang salah?

 

 

Jantung membengkak

Merasakan ada yang mundur dalam kondisi fisiknya, Pak Ag memeriksakan kembali jantungnya. Awalnya ia ragu, karena berkeyakinan kalau sudah di-bypass tentu akan beres seterusnya. Ternyata tidak seperti itu.

 

 

Dokter yang memeriksa menemukan kondisi jantung Pak Ag mulai membengkak. Itu yang membuatnya mulai sesak napas kalau berjalan cepat. Pak Ag mulai terbatuk-batuk saat napasnya memburu. Dulunya tidak begitu.

 

 

Waktu diperiksa, ternyata tensinya tinggi, yaitu 150/100 mmHg, tanpa is insyafi. Bisa jadi itu yang menyebabkan jantungnya mulai membengkak. Daya pompa jantungnya menurun untuk mampu memasok kebutuhan darah tubuh sebagaimana sediakala.

 

 

Awalnya jantung Pak Ag tidak begitu. Satu pembuluh darah koroner cabang utama jantungnya saja yang tersumbat berat, sehingga harus dioperasi bypass (CABG), karena sudah tak bisa memilih hanya dipasang cincin (stent) lagi. Tidak semua kasus jantung koroner bisa diselesaikan hanya dengan memasang cincin koroner ini.

 

 

Sayangnya, Pak Ag berpikir, setelah operasi yang membelek dinding dadanya itu, seterusnya kondisi jantungnya akan baik-baik saja. Kini terbukti sudah ternyata tidaklah demikian. Pikiran semacam begini acap menyesatkan banyak pasien pascaoperasi jantung, maupun yang sudah dipasang cincin koroner jantung.

 

 

Serangan jantung baru

Yang paling dering terjadi, serangan jantung berulang kembali baik sehabis operasi bypass koroner jantung atau setelah dipasang cincin koroner. Kejadian ini sejatinya tidak perlu berlangsung bila pasien mewaspadai bakal munculnya serangan berulang karena masih bisa dicegah.

 

 

Orang dengan riwayat penyumbatan pembuluh darah jantung koroner, berarti seluruh pembuluh koronernya membawa risiko sama, yakni sudah tidak sehat lagi. Bahwa belum seluruh pembuluh koroner mengalami sumbatan, itu cuma soal waktu.

 

 

Pada pasien yang sudah pernah mengalami serangan jantung koroner, masing-masing cabang koronernya sebetulnya sudah berbakat tersumbat. Artinya, semua pembuluh koroner pada yang sudah pernah ada riwayat serangan koroner, berpotensi tersumbat.

 

 

Jadi bila bakat tersumbat koronernya dibiarkan tetap berisiko, hanya soal waktu cabang pembuluh koroner lain suatu saat akan tersumbat pula.

 

 

Pada saat sumbatan pada koroner lain itu terjadi, serangan jantung terjadi lagi. Serangan jantung ini bisa oleh tersumbat ulangnya pembuluh yang pernah dioperasi bypass atau yang sudah dipasang cincin koroner, bisa juga sumbatan pada pembuluh koroner lainnya.

 

 

Saru hal perlu diingat bahwa pemasangan cincin koroner atau stent tidak menjamin seratus persen koronernya tidak bakal tersumbat kembali. Tergantung jenis stent, dan seberapa rentan respons pembentukan plak lemak pada dinding pembuluh koronernya.

 

 

Jenis stent yang dilapisi obat (eluted-stent) lebih kecil kemungkinan tersumbat ulang dibandingkan dengan stent polos tanpa obat.

 

 

Kendalikan Risiko

Bahwa seseorang berisiko terserang jantung koroner karena memiliki bakat itu. Baik karena keturunan maupun karena gaya hidup.

 

 

Waspada bila lipid (lemak) darah selalu lebih tinggi dari normal atau mengidap diabetes, atau hipertensi, secara berkomplot, ditambah faktor risiko stres, kegemukan, riwayat keluarga dengan penyakit metabolik. Tanpa mengendalikan semua faktor risikonya itu, serangan jantung koroner pasti terjadi, dan akan terjadi lagi.

 

 

Sudah pernah ditulis di rubrik ini, bahwa sesungguhnya orang dengan risiko terserang jantung koroner, termasuk yang berisiko stroke, punya cukup waktu untuk mencegahnya agar tidak sampai serangan yang bisa mengancam nyawa itu terjadi. Caranya, dengan menekan semua faktor risiko yang dimilikinya. Hanya bila semua faktor risiko itu ditekan, serangan jantung dan atau stroke bisa digagalkan kemunculannya.

 

 

Jadi itu berarti, serangan jantung koroner baru bisa terjadi sebagai serangan ulangan bila faktor risiko untuk terjadinya sumbatan koroner tidak dicegah. Pembiaran terhadap faktor risiko yang berakibat munculnya serangan jantung koroner yang berulang.

 

 

Kasus Pak Ag di atas juga begitu. Selain jantungnya mulai membengkak akibat munculnya darah tinggi yang tidak dikontrol, dari pemindaian MS-CT jantung juga terlihat sudah ada sumbatan baru pada pembuluh koroner yang lainnya.

 

 

Sumbatan baru itu yang menjadi bibit bakal munculnya serangan jantung koroner berulang nantinya, sekiranya hipertensi yang sudah membuat jantungnya mulai membengkak itu, selain lipid darahnya masih tinggi, stres terus mendera dan tetap kegemukan, semuanya masih saja dipelihara.

 

 

Jadi kalau sehabis serangan jantung koroner maupun sehabis stroke, karena penyebab dasarnya kurang lebih sama, muncul keluhan kemunduran fisik, berwaspadalah karena kemungkinan serangan yang tidak diharapkan itu bakal muncul kembali. Mungkin pada pembuluh yang sama, bukan tak mungkin pada pembuluh darah yang lain, yang bakatnya sama berisiko tersumbat.

 

 

Oleh:
Dr. Handrawan Nadesul
Dokter Umum
 
 
Sumber: Senior



Artikel Lainnya