Artikel
Artikel » renungan »renungan
Tradisi Perayaan Ibadah Natal
dipost pada: 07 February 2010Oleh : Pdt. Setiawati Sucipto
Tulisan ini bisa dianggap agak terlambat karena baru disajikan sekarang, justru ketika kita sedang memperingati masa Prapaska. Namun bukan tulisan ini berarti tidak bermanfaat bagi umat yang barangkali bertanya-tanya, mengapa ada beberapa hal yang berbeda terjadi ketika kita merayakan ibadah Natal pada 24 Desember 2009 di Jemaat kita? Apalagi hal itu terkait dengan apa yang setiap tahun ada, namun kini menjadi hilang, yaitu: candle light dengan nyanyian Malam Kudus. Tentu perbedaan yang terjadi bisa membuat “hati tidak nyaman dan terasa tidak bernatalan,” kata sebagian orang yang hadir dalam perayaan ibadah Natal itu. Hal ini wajar karena kita sudah terbiasa dengan kesyahduhan dan keindahan suasana Natal yang muncul hanya setahun sekali. Karena itulah tulisan ini mudah-mudahan dapat menolong umat untuk memiliki pemahaman yang benar di dalam merayakan Natal.
Seperti kita ketahui, perayaan Natal sendiri sebenarnya merupakan perayaan yang baru dirayakan lama setelah kelahiran Kristus. Dalam tradisi Yahudi, perayaan kelahiran bukanlah perayaan yang populer. Dalam perjalanannya, perayaan Natal ini sesungguhnya juga melekat berbagai tradisi yang mengikutinya, seperti tradisi: menyalakan lilin (candle light), menyanyikan lagu-lagu Natal, terutama Malam Kudus, memasang
dekorasi Natal seperti: pohon natal, kandang domba, palungan, Santa Claus, dsb. Dalam hal inilah kita harus cermat membedakan mana hal-hal di dalam ibadah yang memiliki dasar teologis, sehingga mutlak harus dihayati dengan benar, dan mana yang hanya bersifat tradisi. Yang bersifat tradisi tentu tidak mutlak ada, bahkan dapat dikontekstualkan dengan situasi di Indonesia. Misalnya, pohon cemara dapat diganti dengan pohon pisang, kelapa, dsb.; lilin dapat di ganti dengan obor, dian, dsb. Hal ini penting kita pahami agar dalam merayakan ibadah Natal kita tidak terjebak pada keyakinan yang sebenarnya hanya bersifat tradisi , tapi bisa mengaburkan makna teologis dari ibadah itu sendiri. Karena itu dibawah ini ada penjelasan untuk beberapa tradisi dalam perayaan ibadah Natal.
1. Lilin Natal
Lilin dalam bahasa Inggris disebut candle yang diserap dari bahasa Latin cardere, artinya kelap-kelip. Lilin sudah dikenal oleh bangsa Mesir sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Orang Yahudi setiap Jumat sore, 18 menit sebelum matahari terbenam selalu menyalakan lilin untuk menyambut dimulainya hari Sabat.
Kini, lilin dan Natal sudah merupakan kesatuan yang sukar untuk bisa dipisah. Rasanya kalau kita merayakan Natal tanpa adanya lilin berarti ada sesuatu yang kurang. Tidaklah heran omset penjualan lilin di Eropa lebih besar 45% pada saat menjelang Natal. Sebenarnya tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang mengaitkan antara lilin dan Natal. Budaya Lilin ini diambil dari sejak jaman Romawi ketika mereka merayakan pesta Saturnalia (penyembahan Dewa Saturnus).
Bagi umat Kristen, lilin itu merupakan simbol dari kelahiran Yesus yang membawa terang ke dalam dunia. Yohanes 1:5 “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya dan (9a) terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang….” Selain itu kehadiran malaikat membawa kabar gembira bagi para gembala di padang yang mana kemuliaan Tuhan bersinar terang di tengah malam (Luk 2:8-12) merupakan analogi terhadap peran Yesus sebagai terang dunia.
Lilin dapat membawa terang untuk melawan kegelapan. Terang selalu menguasai kegelapan dan tidak pernah ditelan oleh kegelapan – betapa pun kecilnya terang itu. Lilin itu ikhlas berkorban membakar “dirinya” sendiri agar dapat menjadi terang. Tanpa pengorbanan, sulit menjadi terang. Lilin melambangkan keberanian untuk memberikan terang. Mereka yang berada di dalam kegelapan pasti membutuhkan terang.
2. Nyanyian Malam Kudus
Pencipta nyanyian Malam Kudus adalah Joseph Mohr (1792-1848), seorang pendeta dari Austria. Tentunya Joseph Mohr tidak pernah menduga bahwa nyanyian gubahannya itu akan dinyanyikan oleh umat Kristen di seluruh dunia. Sebenarnya ia menulis nyanyian ini hanya sebagai jalan keluar yang diambil untuk merayakan Natal di daerahnya. Organ yang dimiliki gereja saat itu sedang rusak. Oleh karena itu pada siang hari sebelum malam natal tahun 1818, ia memohon seorang pemain organ, Franz Gruber, untuk mengkomposisikan melodi untuk liriknya tersebut. Kemudian Gruber menuliskan melodinya yang bisa dinyanyikan dengan iringan gitar dengan dua nada. Pada malam itu nyanyian baru tersebut itu diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh sang penyair dan komponisnya pada misa natal di gereja Pfarrkirche di desa Oberndorf yang terletak di tepi sungai Salzach.
Setahun kemudian, secara kebetulan Karl Mauracher, seorang pembuat organ, mendengar nyanyian itu pada saat ia sedang memperbaiki organ di Oberndorf. Ia sangat menyukai nyanyian itu, maka ia membawa dan memperkenalkan nyanyian itu kepada masyarakat di kampung halamannya di Zillertal. Dalam waktu singkat nyanyian itu dinyanyikan oleh sebuah grup penyanyi Zillertal pada sebuah konser yang sangat populer saat itu di Leipzig. Mulai saat itu, bait pertama dari lagu ini kemudian menjadi sangat terkenal di seluruh dunia. Di Dresden diterbitkan cetakan pertama dari lagu Malam Kudus pada tahun 1883, sayangnya tanpa nama sang penyair dan sang komponis. Ketenaran lagu itu tidak memungkiri kenyataan bahwa lagu Malam Kudus menjadi lagu kesukaan bagi Raja Friedrich Wilhelm IV dari Preußen/Prusia (1840-1851). Melalui misionaris dan penyebaran agama Kristen seluruh dunia, nyanyian itu menjadi populer sampai ke negara-negara di luar Eropa dan dengan cepat menjadi lagu Natal kesukaan di seluruh dunia pada abad ke-19 dan ke-20.
3. Pohon Natal
Bangsa Rumawi menggunakan pohon cemara untuk perayaan Saturnalia (penyembahan Dewa Saturnus). Bangsa Jerman kuno memiliki kebiasaan memasang batang pohon (lengkap dengan cabang-cabang dan daun-daunnya) di tempat tinggal mereka untuk mengusir bad spirit, dan sebagai simbol agar musim semi cepat tiba. Pada saat kekristenan menyebar ke Jerman, gereja tidak menyukai kebiasaan tersebut dan melarangnya. Sekitar abad ke-12, seorang pemilik bakery memiliki ide untuk menaruh batang pohon tersebut dalam keadaan terbalik dan hal ini disetujui oleh gereja katolik. Setelah protestan muncul, Martin Luther mempopulerkan dengan posisi natural seperti pohon pada umumnya dan dihiasi dengan lilin-lilin untuk menunjukkan pada anak-anaknya bagaimana bintang-bintang berkilauan di langit yang kelam. Seiring dengan waktu, pohon Natal pun didekorasi dengan hiasan-hiasan menarik seperti lampu-lampu, malaikat, bahkan cokelat dan apel.
Pada tahun 1846 Ratu Victoria dari Inggris bersama Pangeran Albert yang berasal dari Jerman digambarkan oleh London News berdiri beserta kedua anak mereka mengelilingi pohon Natal. Karena Ratu Victoria sangat populer di hati rakyat, segeralah pohon Natal menjadi trend di kalangan rakyat Inggris, bahkan menyebar hingga ke pantai timur Amerika sampai ke seluruh dunia.
Artikel Lainnya
- Botol Kosong
- Hampa
- Hidup yang dapat dijelaskan dalam satu kalimat
- Ikan Sapu-sapu
- Bangsa yang (Tidak) Bangga
- Puasa Dalam Budaya (bagian 1 dari 4)
- Puasa Dalam Alkitab (bagian 2 dari 4)
- STOP MEMBUAT SAMPAH! (bagian 5 dari 6)
- Puasa Dalam Alkitab (bagian 3 dari 4)
- Puasa-Derma dalam Praktek (bagian 4 - terakhir)
Page : 1 | 2 | | 3 | | 4 | | 5 | | 6 | | 7 | | 8 | | 9 | | 10 | | 11 |
