Kata-Kata
Oleh: Atina Osmara



Alangkah bahagianya seorang ibu mendengar bayinya bisa mengucapkan kata-kata pertamanya, antara lain mama.  Sejak dilahirkan ke dunia seseorang belajar berkata-kata. Menyampaikan perasaannya, keinginannya, dan dimengerti orang lain di sekitarnya. Maka orangtua ...
GKI Surya Utama

Event Selanjutnya

 

GKI Surya Utama

 

Pendeta

Saturday, 11 September 2010

Artikel

Artikel » renungan » Pelayanan Penyembuhan Yang Mengutuhkan (Healing Ministry) bag. 2

renungan






Pelayanan Penyembuhan Yang Mengutuhkan (Healing Ministry) bag. 2

dipost pada: 07 March 2010

Oleh : Pdt. Setiawati Sucipto

 

Uraian berikut adalah beberapa contoh penyembuhan yang mengutuhkan sebagaimana dilakukan oleh Yesus.


Yesus menyembuhkan 10 orang kusta lalu menyuruh mereka pergi kepada para imam (Luk 17: 11- 19). Salah satu di antara 10 orang kusta yang telah disembuhkan itu kembali kepada Yesus dan memuji Allah. Yesus berkata kepadanya: “Imanmu telah menyelamatkanmu.” Ucapan Yesus kepada satu orang ini bukan berarti bahwa kesembilan orang kusta yang telah disembuhkan itu kembali sakit. Tetapi ini menunjukkan bahwa hanya satu orang inilah yang benar-benar disembuhkan. Hanya dia satu-satunya yang pulih dari sekedar fisik. Hanya dia satu-satunya yang sesungguhnya mengerti makna dari mukjizat Yesus ini.


Contoh lain adalah ketika Yesus menyembuhkan orang lumpuh. Setelah melihat iman orang ini dan teman-temannya yang telah membawanya kepada Yesus, maka kata-Nya: “Anakku, dosa-dosamu telah diampuni.” Kemudian Yesus mengadakan penyembuhan fisik dengan memberi perintah: “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan berjalanlah” (Mrk 2:1–12).


Mukjizat ini secara jelas menunjukkan hubungan antara gejala fisik orang itu dan pemulihan hubungan dengan Allah.


Memang Yesus mengobati penyakit fisik. Namun, Ia menyatakan bahwa keseluruhan fisik bukanlah segala-galanya; itu hanya sesuatu yang baik dan bersifat relatif. Hal ini terlihat ketika Ia menekankan bahwa demi keselamatan jiwa, kita harus berani menanggalkan tubuh fisik kita sekalipun. Seperti yang dikatakan-Nya: “Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka (Mrk 9:45, 47).


Di samping hubungan dimensi fisik dan spiritual-religius, mukjizat Yesus juga tertuju pada dimensi sosial. Ketika Yesus menyentuh penderita lepra, Ia menjadi  ‘kotor’ (Mrk 1 : 41). Namun di balik itu Ia meruntuhkan rintangan sosial dan menyatukan orang buangan masyarakat ini dengan masyarakatnya.


Pemahaman di atas tentu memberikan paradigma baru bagi kita dalam memahami arti kesehatan. Hal ini membuka cakrawala pemikiran kita yang mungkin selama ini cenderung melihat kesehatan dari sudut fisik saja. Tidak heran bila banyak orang yang demi kesembuhan secara fisik ‘mengejar-ngejar’ orang-orang yang dianggap mempunyai kharisma penyembuhan yang dapat mendatangkan mukjizat. Hal itu bisa kita amati baik yang terjadi dalam lingkup masyarakat maupun gereja.  (bersambung)



Artikel Lainnya