Warta Jemaat
Warta Jemaat » Kesaksian » MamaKesaksian
Mama
dipost pada: KesaksianMama ……..
Mama, bukan orang istimewa,
tanpa bakat dan talenta yang luar biasa,
tapi …
kami percaya pada Kristus melalui nya,
Mama, tidak pandai mengajarkan ilmu,
tapi, ……
ia berlutut di belakang pintu mendoakan anak anak nya,
Mama, bukan wanita karier
tak punya jabatan dan penghasilan,
tapi, ………
siap membanting tulang, berjualan, saat dibutuhkan,
Mama, bukan orang yang kuat,
berkali kali jatuh, lalu memar dan biru,
terkena cancer stadium lanjut,
dan matanya buta satu,
tapi, …….
tidak gampang putus asa,
imannya sehat dan kuat,
Mama, bukan orang sempurna,
tanpa cacat dan cela,
tapi,...
ia telah mengakhiri kehidupannya……
berdampingan di kubur bersama papa ……
dan ……..
diam bersama Kristus di dalam Sorga .
Jakarta, 21 Juni 2008.
Saya ingin berbagi cerita dengan saudara sekalian tentang kehidupan mama, khususnya saat saat menjelang kepergiannya ke Sorga.
Mama sebenarnya hidup amat bergantung pada papa, sebagai kepala keluarga yang bekerja keras untuk keluarga. Karena itu kami amat kuatir saat papa meninggal dalam usia 83 tahun
( meninggal pada tgl. 27 April 1999 ), bahkan dalam benak kami, jangan jangan mama Cuma akan bertahan selama 1 tahun, sebab mereka memang nyaris selalu berdua ( walau kadang suka juga “ ribut “ dalam kadar yang biasa dan wajar ).
Tanpa disadari, bahwa kekuatan mama amat luar biasa, daya juangnya besar. Sesungguhnya ini adalah anugerah Tuhan yang besar buat mama. Saat papa kehilangan pekerjaan, mama tidak segan turut serta berjualan kue, menjahit….. tanpa mengeluh dan menyalahkan papa
( padahal sebenarnya mama adalah anak orang kaya ).
Kemampuannya menerima keadaan apapun yang menimpa dirinya juga mengagumkan. Itulah yang sering kita sebut sebagai hidup yang bersyukur ! Ketika gagal operasi katarak, maka mata mama tidak dapat melihat lagi ……. Ia tidak kecewa berkelebihan, apalagi murung dan mengurung diri. Ia hidup dengan satu mata yang juga mulai menjadi berkabut. Bersyukurlah, operasi mata yang satu lagi ( beberapa tahun kemudian ) berhasil. Tuhan menolong nya.
Karena itu, mungkin, mama sanggup menjalani hidupnya sendiri ( artinya : Tanpa papa ) dengan baik, paling tidak ditempuhnya selama 9 tahun 2 bulan kurang 6 hari. Apalagi memang hidupnya diisi dengan baca Alkitab dan ke Gereja. Dan Gereja yang dekat ( GKI Kavling Polri ) menolong mama tidak kesulitan untuk kesana.
Kemampuannya juga teruji, saat mama menderita penyakit kanker payudara ( kami kecolongan tidak mengetahui sejak dini, mungkin karena 2 menantu mama terkena penyakit kanker juga, pikiran terfokus kesana ). Dokter mengatakan pada kami : “ You jangan harap mama sembuh ya … “. Kami dengan enteng mengatakan : “ Kami tidak mengharapkan hal itu. “, yang ingin kami perjuangkan adalah mutu kehidupan mama di ujung kehidupannya, agar tetap baik dan tanpa kesakitan ( kami telah menganalisa kemungkinan pengobatan : Kemotheraphi, pasti mama tidak sanggup, operasi, apalah gunanya tanpa kemotheraphi, lalu terapi apa lagi ? ). Tapi apakah hal yang kami tempuh ini baik, siapa bisa jamin ???
Bersyukur mama tidak ngotot bertanya sakit apa, apalagi protes kepada Tuhan, mengapa Tuhan mengijinkan semua ini terjadi ! Padahal, dulu sekali kakak wanita mama sakit yang sama dan menderita beberapa lama dengan kanker parunya. Pastilah mama punya bayangan menakutkan dengan penyakit seperti ini. Kami berupaya selalu mengelak menjawab dan terus memompakan semangatnya berjuang. Tuhan menolong, sehingga mama tidak terfokus pada penyakit, teapi tetap kepada Tuhan.
Sungguh luar biasa pertolongan Tuhan yang memberikan kemampuan pada mama, sekalipun sempat benjolannya pecah dan berdarah, serta mengeluarkan bau tidak sedap, dan mama sempat berada dalam keadaan seperti “ amat lemah ”, namun melalui obat herbal dengan disertai obat lain ( hasil pilihan dan pertimbangan anak anak yang bukan dokter ), dengan ditambah 20 x penyinaran, mama berangsur menjadi baik. Kami tahu bahwa ini adalah karunia Tuhan, bukan suatu kemampuan manusia.
Kami sadar bahwa kesembuhan ini bukan penyembuhan sempurna, tapi paling tidak kualitas hidupnya baik, masih menyanyi di paduan suara lanjut usia GKI Kavling Polri. Sementara itu, doa doa terus dinaikkan kepada Tuhan, tentu saja di GKI Kavling Polri, tempat mama menjadi anggota dan juga di GKI Surya Utama ( al. dalam persekutuan doa pagi ).
Kurang lebih, tahun lalu, ia mengatakan bahwa benjolannya muncul lagi. Kami mulai was was, jangan jangan ini adalah ujung kehidupan mama dan kami sudah tidak mampu mengatasinya. Sementara semua bertahan dalam kondisi “stabil”, mama kembali jatuh, 2 kali jatuh : yang pertama terkena kakinya, tapi sempat baik dan kembali dapat berjalan, tapi yang kedua ketika ia jatuh terkena dahinya, maka kondisinya agak menurun. Sekalipun luka dan benjolan di kepala cepat sembuh, namun sejak itu, ia mulai tidak mau/ segan berbicara. Yang kedua ini kurang lebih 2 bulan sebelum kepergiannya.
Dalam kondisinya yang sudah malas bangun, sempat GKI Kavling Polri ( atas permintaan kami, untuk memperingati ulang tahun mama yang ke 90 tahun ) mengadakan persekutuan lanjut usia di rumah, tapi mama tetap tiduran, nyaris tanpa kata. Ketika ia mulai tidak mau makan, terpaksa selang dipasang dihidungnya untuk memsuplai makanan, dan itupun cuma berlangsung selama 2 mingguan, akhirnya ia meninggal ……..
Dalam kondisi yang lemah, sempat kami bertanya : “ Takut ? “, yang dijawab dengan anggukan lemah. Kami mencoba untuk menguatkan dan menasehatkannya untuk berjalan terus bersama Kristus, menggenggam tanan Nya yang penuh Kasih. Kami memang siap untuk menerima kenyataan ini, bahwa mama sebentar lagi akan meninggalkan kami, apalagi sejak Jum’at pagi tatapannya kosong dan nyaris tidak memberikan reaksi atas pertanyaan pertanyaan, maka semakin kami sadar bahwa harinya semakin dekat lagi.
Ketika ia masih sehat, sempat berucap ingin meninggal dengan mudah, berbalik, lalu selesai. Itu dikabulkan Tuhan. Sabtu 21 Juni 2008, dini hari jam + 01.00, mama dipanggil pulang oleh Tuhan Yesus. Sama seperti papa, yang meninggal tanpa disaksikan oleh siapapun, demikian juga mama. Kedua duanya memang tidak mau “menyusahkan” anak dan menantu, demikianlah mereka pergi meninggalkan kami. Jalan Tuhan memang luar biasa, penuh dengan anugerah. Rangcangan Nya selalu yang terbaik bagi anak anak Nya. Doa anak Nya di dengarkan ……
Saat jenazah sudah dirapihkan pada pagi hari, jam 05.48 masuk sebuah SMS yang berisikan kutipan Yohanes 11 : 25. Ayat yang diberikan ( tanpa sang pengirim tahu bahwa kami baru saja ditingalkan pergi oleh mama ) seakan sapaan Tuhan Yesus sendiri untuk memberikan keteguhan ulang bahwa mama sekarang telah dibangkitkan oleh Kristus.
Di atas semua duka, kami bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus, yang telah memimpin mama dalam hidupnya ini, yang menganugrahkan keyakinan dan kekuatan untuk menjalani hidup dengan tabah, serta menganugrahkan kematian yang begitu tenang.
Juga terima kasih atas segala pelayanan yang diberikan oleh pelbagai pihak, yang kami tidak dapat sebutkan satu persatu. Tuhan Yesus memberkati saudara sekalian.
Jakarta, 25 Juni 2008
Pdt. Adijanto Surjadi
Warta Jemaat Lainnya
- Kesaksian - 05 October 2008
